Showing posts with label keluarga. Show all posts
posted by Anis Fuad on intermezzo, keluarga
Bunda, Hari ini abi pusying . capek
posted by Anis Fuad on intermezzo, keluarga, pasangan
Menurut anda, seberapa besar arti pasangan anda? Bagaimanakah penilaian anda terhadap pasangan anda? Mari kita berbagi!
posted by Anis Fuad on keluarga, kesehatan
Saya tidak tahu, ini berita baik atau tidak, tapi bunda bilang kami dapat rizki lagi dari ALLAH. Alhamdulillah. Akhirnya terjawab sudah. Bunda hamil lagi. kita bakal punya jundi lagi. Rizki Allah tidak boleh ditolak walau dalam hati bingung, ngasuh 2 anak saja sudah repot apalagi 3.... gubrak!!!
3 minggu yang lalu, bunda seharusnya kedatangan tamu bulanan. kok ga datang2?? kenapa gerangan? kami bergegas beli testpack..... dan akhirnya positif!
Tapi herannya, keesokan hari, bunda mulas2, dan keluar flex. Ada apa gerangan? secepatnya kami cari buku "Setiap Wanita" diperpustakaan pribadi kami, tanda2nya mirip dengan kehamilan ektopik- hamil di luar kandungan. Benarkah?
Kami belum yakin, kami putuskan ke RS. tepatnya RSUD Serang, mumpung punya ASKES - andalan PNS kalo sakit. Sampai di RSUD Serang, kami harus berhadapan birokrasi RS yang menjengkelkan. Maklum kami baru pertama berobat di RSUD Serang. Biasanya kita di Klinik Swasta atau RSUD Cilegon yang kami nilai punya pelayanan Prima.
Di RSUD Serang, mendaftar dan bertanya sedikit langsung di bentak2. Wow ini pelayan masyarakat kok ga punya senyum!. Selesai. Ke Poli Kandungan, pasien antri dan dokternya baru datang, laki2 pula. Kami paling malas jika bunda di periksa dokter Kandungan laki2. Ditambah ASKES kami dipersulit. Berbeda jauh dengan perlakuan paramedis di RSUD Cilegon yang mau melayani kami.
Senewen, kesal, seharusnya masalah kami terjawab, masalah remeh temeh malah jadi penghalang. Akhirnya kami langsung cabut ke RS yang lebih baik. RSIA Budi Asih Serang. Kami kesana, dokter kandungan baru saja pergi dan akan praktek lagi jam 7 malam.
Jam 7 datang, daftar, dan ehh harus menunggu juga, kita di nomor urut 16. Busyyet... nunggu sampai jam 21.00. sebalnya, si Dokter masih sempat2nya menerima Medical Representatif padahal masih banyak pasien yang antri....capeee deh...
Kami dipanggil, kami ceritakan... lalu bunda di USG. Dokter bilang, hasil USG menunjukkan bahwa ada penebalan dinding rahim, dan bayinya tidak ada di rahim? Benar ektopik kah??? Dokter mencari keyakinan, bunda di Test Urine (testpack) lagi... Positif tapi garis kedua memang tidak jelas... Saran dokter.. seminggu lagi ke sini ya??? hahahaha minggu depan kita harus antri menunggu dokter lagi dong! mahal lagi!
Kami putuskan kami harus ke Cilegon, ke dokter langganan kita, dokter yang telah membantu 2 anak kami bisa melihat dunia. Dr. Data Angkasa, SPOg. Dokter perempuan tentunya. Beliau praktek di RSIA AFINA Cilegon.
Dr. Data periksa Bunda dan akhirnya kabar "gembira" itu tiba... janinnya bagus kok.! jangan cape2 yah! Banyak istirahat....
Hik-hik... Bunda sedih, baru saja diterima kerja di Primagama (dulu pernah kerja di Sekolah Peradaban dan akhirnya nganggur 6 bulan untuk konsen ngurus anak) eh harus istirahat....
Kasihan bunda, ini salah Abi..... tapi kita patut bersyukur banyak orang yang sulit mendapatkan rizki Anak dari Allah... kita diberi berlimpah... Subhanallah Wal Hamdulillah...
posted by Anis Fuad on keluarga, kesehatan, razita
Alhamdulillah, dalam beberapa hari ini Zita akhirnya sudah terlihat sehat.
Zita sudah sembuh.
Selama dua minggu lalu Zita demam, sering muntah dan susah makan. Kalau susah makan memang sudah dari dulu.
Alhamdulillah, setelah berobat dan ikhtiar, Zita sudah lahap makan, lebih ceria (dulu, walaupun sakit dia tetap memaksakan diri main dan main).
Zita sekarang selalu bilang sama bunda dan abinya.. mam..emammm. Di berikan piring berisi abon, ikan, bakso, sayur sop... zita langsung lahap. Zita ambil sendiri semua makanan... lahap. kadang dia mengambil kuah sop dengan sendok walaupun acak-acakan. tapi kami bahagia, zita sudah lahap makan. sebelumnya kami selalu di "nasehati" keluarga dan tetangga.
"Dikasih Makan dong!"
Ya, Allah, masak kami setega itu tidak memberikan makan pada anak tercinta kami.
Masalah sebenarnya, Zita terserang penyakit yang kompleks - ga jelasnya!... kata dokter pertama, zita terkena paru2, kata dokter kedua terkena TBC, dokter ketiga zita terkena ISPA (yang ini aneh, ketika zita dirawat, semua pasien balita yang ada di RS tersebut di diagnosa ISPA), dokter yang ke empat lagi bilang infeksi pencernaan? yang benar yang mana?? sampai sekarang kami masih menduga-duga!
Dugaan kami, zita memang ringkih - riskan terkena virus dan bakteri. daya tahannya kurang karena disapih ASInya saat umur 3 bulan gara-gara saya melahirkan anak kedua kami (fatih). walaupun kami bandingkan dengan balita tetangga, walaupun tidak diberi ASI si bayi tetap gemuk!?
Zita sejak kecil alergi laktosa susu sapi. Terpaksa minum susu formula soya/kedelai. Masalah terbesar waktu itu zita, sulit makan. pernah beberapa minggu makanan sudah masuk kemudian muntah. susu sudah di minum juga dimuntahkan.
Terakhir, zita di rontgen dengan kesimpulan paru-parunya kotor? dapatkah paru-paru mempengaruhi kemampuan dan kemauan makan sibayi? mudah2an ada yang mau jawab di blog ini.
Nah, saat ini zita sedang melakukan terapi obat/trial. obatnya warna orange, serbuk, dan harus di habiskan dalam satu bulan. yang kami tahu itu obat untuk paru2. Jika berat si anak naik dan nafsu makan, terapi dilanjutkan 5 bulan lagi. Bisa dibayangkan setiap pagi kami mencekoki obat pada zita. kasihan.
So, kami tetap bahagia, zita sudah lebih ceria, sering ngoceh, sering bersenandung, sering naik lemari, sering joget jika mendengar lagu berbeat cepat, sering memukul adiknya dengan seringai ekspresi puas (mhhmm tanda sayang atau cemburu ya?). Zita sudah bisa berkomunikasi, ini-itu, ada-ga ada, dan mudah mengikuti perintah.
Senangnya!
posted by Anis Fuad on islam, keluarga

Dikutip dari sebuah milis. Sebenarnya bantahan pernikahan usia Aisyah r.a ketika dinikahi Rasulullah sudah sangat lama saya baca, ketika masih SD, tapi dari riwayatnya sendiri masih simpang siur. Ada yang mengatakan umur 7,9, 12, dan 14 tahun. Artikel berikut inilah yang paling lengkap, jadi saya coba muat di blog ini. Saya harap jangan memberi komentar sebelum membaca semuanya.
Seorang teman kristen suatu kali bertanya kepada saya, "Akankah anda menikahkan saudara perempuanmu yang berumur 7 tahun dengan seorang tua berumur 50 tahun?" Saya terdiam.Dia melanjutkan, "Jika anda tidak akan melakukannya, bagaimana bisa anda menyetujui pernikahan gadis polos berumur 7 tahun, Aisyah, dengan Nabi anda?" Saya katakan padanya, "Saya tidak punya jawaban untuk pertanyaan anda pada saat ini." Teman saya tersenyum dan meninggalkan saya dengan guncangan dalam batin saya akan agama saya.
Kebanyakan muslim menjawab bahwa pernikahan seperti itu diterima masyarakat pada saat itu. Jika tidak, orang-orang akan merasa keberatan dengan pernikahan Nabi saw dengan Aisyah.
Bagaimanapun, penjelasan seperti ini akan mudah menipu bagi orang-orang yang naif dalam mempercayainya. Tetapi, saya tidak cukup puas dengan penjelasan seperti itu.
Nabi merupakan manusia tauladan, Semua tindakannya paling patut dicontoh sehingga kita, Muslim dapat meneladaninya. Bagaimanapun, kebanyakan orang di Islamic Center of Toledo, termasuk saya, Tidak akan berpikir untuk menunangkan saudara perempuan kita yang berumur 7 tahun dengan seorang laki-laki berumur 50 tahun. Jika orang tua setuju dengan pernikahan seperti itu, kebanyakan orang, walaupun tidak semuanya, akan memandang rendah terhadap orang tua dan suami tua tersebut.
Tahun 1923, pencatat pernikahan di Mesir diberi intruksi untuk menolak pendaftaran dan menolak mengeluarkan surat nikah bagi calon suami berumur di bawah 18 tahun, dan calon isteri dibawah 16 tahun. Tahun 1931, Sidang dalam oraganisasi- oraganisi hukum dan syariah menetapkan untuk tidak merespon pernikahan bagi pasangan dengan umur diatas (Women in Muslim Family Law, John Esposito, 1982). Ini memperlihatkan bahwa walaupun di negara Mesir yang mayoritas Muslim pernikahan usia anak-anak adalah tidak dapat diterima.
Jadi, Saya percaya, tanpa bukti yang solidpun selain perhormatan saya terhadap Nabi, bahwa cerita pernikahan gadis brumur 7 tahun dengan Nabi berumur 50 tahun adalah mitos semata. Bagaimanapun perjalanan panjang saya dalam menyelelidiki kebenaran atas hal ini membuktikan intuisi saya benar adanya.
Nabi memang seorang yang gentleman. Dan dia tidak menikahi gadis polos berumur 7 atau 9 tahun. Umur Aisyah telah dicatat secara salah dalam literatur hadist. Lebih jauh, Saya pikir bahwa cerita yang menyebutkan hal ini sangatlah tidak bisa dipercaya.
Beberapa hadist (tradisi Nabi) yang menceritakan mengenai umur Aisyah pada saat pernikahannya dengan Nabi, hadist-hadist tersebut sangat bermasalah. Saya akan menyajikan beberapa bukti melawan khayalan yang diceritakan Hisham ibnu `Urwah dan untuk membersihkan nama Nabi dari sebutan seorang tua yang tidak bertanggung jawab yang menikahi gadis polos berumur 7 tahun.
Bukti #1: Pengujian Terhadap Sumber
Sebagian besar riwayat yang menceritakan hal ini yang tercetak di hadist yang semuanya diriwayatkan hanya oleh Hisham ibn `Urwah, yang mencatat atas otoritas dari bapaknya, yang mana seharusnya minimal 2 atau 3 orang harus mencatat hadist serupa juga. Adalah aneh bahwa tak ada seorangpun yang di Medinah, dimana Hisham ibn `Urwah tinggal, sampai usia 71 tahun baru menceritakan hal ini, disamping kenyataan adanya banyak murid-murid di Medinah termasuk yang kesohor Malik ibn Anas, tidak menceritakan hal ini. Asal dari riwayat ini adalah dari orang-orang Iraq, di mana Hisham tinggal disana dan pindah dari Medinah ke Iraq pada usia tua.
Tehzibu'l-Tehzib, salah satu buku yang cukup terkenal yang berisi catatan para periwayat hadist, menurut Yaqub ibn Shaibah mencatat : "Hisham sangatbisa dipercaya, riwayatnya dapat diterima, kecuali apa-apa yang dia ceritakan setelah pindah ke Iraq " (Tehzi'bu'l- tehzi'b, Ibn Hajar Al-`asqala'ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, 15th century. Vol 11, p.50).
Dalam pernyataan lebih lanjut bahwa Malik ibn Anas menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq: " Saya pernah diberi tahu bahwa Malik menolak riwayat Hisham yang dicatat dari orang-orang Iraq" (Tehzi'b u'l-tehzi'b, IbnHajar Al- `asqala'ni, Dar Ihya al-turath al-Islami, Vol.11, p. 50).
Mizanu'l-ai` tidal, buku lain yang berisi uraian riwayat hidup pada periwayat hadist Nabi saw mencatat: "Ketika masa tua, ingatan Hisham mengalami kemunduran yang mencolok" (Mizanu'l-ai` tidal, Al-Zahbi, Al-Maktabatu' l-athriyyah, Sheikhupura, Pakistan, Vol. 4, p. 301).
KESIMPULAN: berdasarkan referensi ini, Ingatan Hisham sangatlah buruk dan riwayatnya setelah pindah ke Iraq sangat tidak bisa dipercaya, sehingga riwayatnya mengenai umur pernikahan Aisyah adalah tidak kredibel.
KRONOLOGI: Adalah vital untuk mencatat dan mengingat tanggal penting dalam sejarah Islam:
Pra-610 M: Jahiliyah (pra-Islamic era) sebelum turun wahyu 610 M: turun wahyu pertama Abu Bakr menerima Islam 613 M: Nabi Muhammad mulai mengajar ke Masyarakat 615 M: Hijrah ke Abyssinia. 616 M: Umar bin al Khattab menerima Islam. 620 M: dikatakan Nabi meminang Aisyah 622 M: Hijrah ke Yathrib, kemudian dinamai Medina 623/624 M: dikatakan Nabi saw berumah tangga dengan Aisyah
Bukti #2: Meminang
Menurut Tabari (juga menurut Hisham ibn `Urwah, Ibn Hunbal and Ibn Sad), Aisyah dipinang pada usia 7 tahun dan mulai berumah tangga pada usia 9 tahun.
Tetapi, di bagian lain, Al-Tabari mengatakan: "Semua anak Abu Bakr (4 orang) dilahirkan pada masa jahiliyahh dari 2 isterinya " (Tarikhu'l-umam wa'l-mamlu'k, Al-Tabari (died 922), Vol. 4,p. 50, Arabic, Dara'l-fikr, Beirut, 1979).
Jika Aisyah dipinang 620M (Aisyah umur 7 tahun) dan berumah tangga tahun 623/624 M (usia 9 tahun), ini mengindikasikan bahwa Aisyah dilahirkan pada 613 M. Sehingga berdasarkan tulisan Al- Tabari, Aisyah seharusnya dilahirkan pada 613M, Yaitu 3 tahun sesudah masa Jahiliyahh usai (610 M).
Tabari juga menyatakan bahwa Aisyah dilahirkan pada saat Jahiliyah. Jika Aisyah dilahirkan pada era Jahiliyah, seharusnya minimal Aisyah berumur 14 tahun ketika dinikah. Tetapi intinya Tabari mengalami kontradiksi dalam periwayatannya.
KESIMPULAN: Al-Tabari tak reliable mengenai umur Aisyah ketika menikah.
Bukti # 3: Umur Aisyah jika dihubungkan dengan umur Fatimah
Menurut Ibn Hajar, "Fatimah dilahirkan ketika Ka`bah dibangun kembali, ketika Nabi saw berusia 35 tahun dan Fatimah 5 tahun lebih tua dari Aisyah" (Al-isabah fi tamyizi'l-sahabah, Ibn Hajar al-Asqalani, Vol. 4, p. 377, Maktabatu'l- Riyadh al-haditha, al-Riyadh,1978) .
Jika Statement Ibn Hajar adalah factual, berarti Aisyah dilahirkan ketika Nabi berusia 40 tahun. Jika Aisyah dinikahi Nabi pada saat usia Nabi 52 tahun, maka usia Aisyah ketika menikah adalah 12 tahun.
KESIMPULAN: Ibn Hajar, Tabari, Ibn Hisham, dan Ibn Humbal kontradiksi satu sama lain. Tetapi tampak nyata bahwa riwayat Aisyah menikah usia 7 tahun adalah mitos tak berdasar.
Bukti #4: Umur Aisyah dihitung dari umur Asma'
Menurut Abda'l-Rahman ibn abi zanna'd: "Asma lebih tua 10 tahun dibanding Aisyah (Siyar A`la'ma'l-nubala' , Al-Zahabi, Vol. 2, p. 289, Arabic, Mu'assasatu' l-risalah, Beirut, 1992).
Menurut Ibn Kathir: "Asma lebih tua 10 tahun dari adiknya [Aisyah]" (Al-Bidayah wa'l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 371,Dar al-fikr al-`arabi, Al-jizah, 1933).
Menurut Ibn Kathir: "Asma melihat pembunuhan anaknya pada tahun 73 H, dan 5 hari kemudian Asma meninggal. Menurut iwayat lainya, dia meninggal 10 atau 20 hari kemudian, atau beberapa hari lebih dari 20 hari, atau 100 hari kemudian. Riwayat yang paling kuat adalah 100 hari kemudian. Pada waktu Asma Meninggal, dia berusia 100 tahun" (Al-Bidayah wa'l-nihayah, Ibn Kathir, Vol. 8, p. 372, Dar al-fikr al-`arabi, Al- jizah, 1933)
Menurut Ibn Hajar Al-Asqalani: "Asma hidup sampai 100 tahun dan meninggal pada 73 or 74 H." (Taqribu'l-tehzib, Ibn Hajar Al-Asqalani, p. 654, Arabic, Bab fi'l-nisa', al-harfu'l-alif, Lucknow).
Menurut sebagaian besar ahli sejarah, Asma, Saudara tertua dari Aisyah berselisih usia 10 tahun. Jika Asma wafat pada usia 100 tahun dia tahun 73 H, Asma seharusnya berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah 622M).
Jika Asma berusia 27 atau 28 tahun ketika hijrah (ketika Aisyah berumah tangga), Aisyah seharusnya berusia 17 atau 18 tahun. Jadi, Aisyah, berusia 17 atau 18 tahun ketika hijrah pada taun dimana Aisyah berumah tangga.
Berdasarkan Hajar, Ibn Katir, and Abda'l-Rahman ibn abi zanna'd, usia Aisyah ketika beliau berumah tangga dengan Rasulullah adalah 19 atau 20 tahun.
Dalam bukti # 3, Ibn Hajar memperkirakan usia Aisyah 12 tahun dan dalam bukti #4 Ibn Hajar mengkontradiksi dirinya sendiri dengan pernyataannya usia Aisyah 17 atau 18 tahun. Jadi mana usia yang benar? 12 atau 18..?
KESIMPULAN: Ibn Hajar tidak valid dalam periwayatan usia Aisyah.
Bukti #5: Perang BADAR dan UHUD
Sebuah riwayat mengenai partisipasi Aisyah dalam perang Badr dijabarkan dalam hadist Muslim, (Kitabu'l-jihad wa'l-siyar, Bab karahiyati'l- isti`anah fi'l-ghazwi bikafir). Aisyah, ketika menceritakan salah satu moment penting dalam perjalanan selama perang Badar, mengatakan: "ketika kita mencapai Shajarah". Dari pernyataan ini tampak jelas, Aisyah merupakan anggota perjalanan menuju Badar.
Sebuah riwayat mengenai pastisipasi Aisyah dalam Uhud tercatat dalam Bukhari (Kitabu'l-jihad wa'l-siyar, Bab Ghazwi'l-nisa' wa qitalihinnama` a'lrijal) : "Anas mencatat bahwa pada hari Uhud, Orang-orang tidak dapat berdiri dekat Rasulullah. [pada hari itu,] Saya melihat Aisyah dan Umm-i-Sulaim dari jauh, Mereka menyingsingkan sedikit pakaian-nya [untuk mencegah halangan gerak dalam perjalanan tsb]."
Lagi-lagi, hal ini menunjukkan bahwa Aisyah ikut berada dalam perang Uhud dan Badr.
Diriwayatkan oleh Bukhari (Kitabu'l-maghazi, Bab Ghazwati'l-khandaq wa hiya'l-ahza' b): "Ibn `Umar menyatakan bahwa Rasulullah tidak mengijinkan dirinya berpastisispasi dalam Uhud, pada ketika itu, Ibnu Umar berusia 14 tahun. Tetapi ketika perang Khandaq, ketika berusia 15 tahun, Nabi mengijinkan Ibnu Umar ikut dalam perang tsb."
Berdasarkan riwayat diatas, (a) anak-anak berusia dibawah 15 tahun akan dipulangkan dan tidak diperbolehkan ikut dalam perang, dan (b) Aisyah ikut dalam perang badar dan Uhud.
KESIMPULAN: Aisyah ikut dalam perang Badar dan Uhud jelas mengindikasikan bahwa beliau tidak berusia 9 tahun ketika itu, tetapi minimal berusia 15 tahun. Disamping itu, wanita-wanita yang ikut menemani para pria dalam perang sudah seharusnya berfungsi untuk membantu, bukan untuk menambah beban bagi mereka. Ini merupakan bukti lain dari kontradiksi usia pernikahan Aisyah.
BUKTI #6: Surat al-Qamar (Bulan)
Menurut beberapa riwayat, Aisyah dilahirkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah. Tetapi menurut sumber lain dalam Bukhari, Aisyah tercatat mengatakan hal ini: "Saya seorang gadis muda(jariyah dalam bahasa arab)" ketika Surah Al-Qamar diturunkan(Sahih Bukhari, Kitabu'l-tafsir, Bab Qaulihi Bal al-sa`atu Maw`iduhum wa'l-sa`atu adha' wa amarr).
Surat 54 dari Quran diturunkan pada tahun ke delapan sebelum hijriyah(The Bounteous Koran, M.M. Khatib, 1985), menunjukkan bahwa surat tsb diturunkan pada tahun 614 M. jika Aisyah memulai berumahtangga dengan Rasulullah pada usia 9 di tahun 623 M or 624 M, Aisyah masih bayi yang baru lahir (sibyah in Arabic) pada saat Surah Al-Qamar diturunkan. Menurut riwayat diatas, secara aktual tampak bahwa Aisyah adalah gadis muda, bukan bayi yang baru lahir ketika pewahyuan Al-Qamar. Jariyah berarti gadis muda yang masih suka bermain (Lane's Arabic English Lexicon).
Jadi, Aisyah, telah menjadi jariyah bukan sibyah (bayi), jadi telah berusia 6-13 tahun pada saat turunnya surah Al-Qamar, dan oleh karena itu sudah pasti berusia 14-21 tahun ketika dinikah Nabi.
KESIMPULAN: Riwayat ini juga mengkontra riwayat pernikahan Aisyah yang berusia 9 tahun.
Bukti #7: Terminologi bahasa Arab
Menurut riwayat dari Ahmad ibn Hanbal, sesudah meninggalnya isteri pertama Rasulullah, Khadijah, Khaulah datang kepada Nabi dan menasehati Nabi untuk menikah lagi, Nabi bertanya kepadanya tentang pilihan yang ada di pikiran Khaulah. Khaulah berkata: "Anda dapat menikahi seorang gadis (bikr) atau seorang wanita yang pernah menikah (thayyib)". Ketika Nabi bertanya tentang identitas gadis tersebut (bikr), Khaulah menyebutkan nama Aisyah.
Bagi orang yang paham bahasa Arab akan segera melihat bahwa kata bikr dalam bahasa Arab tidak digunakan untuk gadis belia berusia 9 tahun.
Kata yang tepat untuk gadis belia yang masih suka bermain-main adalah, seperti dinyatakan dimuka, adalah jariyah. Bikr disisi lain, digunakan untuk seorang wanita yang belum menikah serta belum punya pertautan pengalaman dengan pernikahan, sebagaimana kita pahami dalam bahasa Inggris "virgin". Oleh karena itu, tampak jelas bahwa gadis belia 9 tahun bukanlah "wanita" (bikr) (Musnad Ahmad ibn Hanbal, Vol. 6, p..210, Arabic, Dar Ihya al-turath al-`arabi, Beirut).
Kesimpulan: Arti literal dari kata, bikr (gadis), dalam hadist diatas adalah "wanita dewasa yang belum punya pengalaman sexual dalam pernikahan." Oleh karena itu, Aisyah adalah seorang wanita dewasa pada waktu menikahnya.
Bukti #8. Text Qur'an
Seluruh muslim setuju bahwa Quran adalah buku petunjuk. Jadi, kita perlu mencari petunjuk dari Qur'an untuk membersihkan kabut kebingungan yang diciptakan oleh para periwayat pada periode klasik Islam mengenai usia Aisyah dan pernikahannya. Apakah Quran mengijinkan atau melarang pernikahan dari gadis belia berusia 7 tahun?
Tak ada ayat yang secara eksplisit mengijinkan pernikahan seperti itu. Ada sebuah ayat, yang bagaimanapun, yang menuntun muslim dalam mendidik dan memperlakukan anak yatim. Petunjuk Qur'an mengenai perlakuan anak Yatim juga valid diaplikasikan ada anak kita sendiri sendiri.
Ayat tersebut mengatakan : Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasaanmu) yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan. Berilah mereka belanja dan pakaian (dari hasil harta itu) dan ucapkanlah kepada mereka kata-kata yang baik. (Qs. 4:5) Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin.
Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. ?? (Qs. 4:6)
Dalam hal seorang anak yang ditingal orang tuanya, Seorang muslim diperintahkan untuk (a) memberi makan mereka, (b) memberi pakaian, (c) mendidik mereka, dan (d) menguji mereka thd kedewasaan "sampai usia menikah" sebelum mempercayakan mereka dalam pengelolaan keuangan.
Disini, ayat Qur'an menyatakan tentang butuhnya bukti yang teliti terhadap tingkat kedewasaan intelektual dan fisik melalui hasil test yang objektif sebelum memasuki usia nikah dan untuk mempercayakan pengelolaan harta-harta kepada mereka.
Dalam ayat yang sangat jelas diatas, tidak ada seorangpun dari muslim yang bertanggungjawab akan melakukan pengalihan pengelolaan keuangan pada seorang gadis belia berusia 7 tahun. Jika kita tidak bisa mempercayai gadis belia berusia 7 tahun dalam pengelolaan keuangan, Gadis tersebut secara tidak memenuhi syarat secara intelektual maupun fisik untuk menikah. Ibn Hambal (Musnad Ahmad ibn Hambal, vol.6, p. 33 and 99) menyatakan bahwa Aisyah yang berusia 9 tahun lebih tertarik untuk bermain dengan mainannya daripada mengambil tugas sebagai isteri.
Oleh karena itu sangatlah sulit untuk mempercayai, bahwa Abu Bakar,seorang tokoh muslim, akan menunangkan anaknya yang masih belia berusia 7 taun dengan Nabi yang berusia 50 tahun.. Sama sulitnya untuk membayangkan bahwa Nabi menikahi seorang gadis belia berusia 7 tahun.
Sebuah tugas penting lain dalam menjaga anak adalah mendidiknya. Marilah kita memunculkan sebuah pertanyaan," berapa banyak di antara kita yang percaya bahwa kita dapat mendidik anak kita dengan hasil memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 atau 9 tahun?" Jawabannya adalah Nol besar.
Logika kita berkata, adalah tidak mungkin tugas mendidik anak kita dengan memuaskan sebelum mereka mencapai usia 7 tahun, lalu bagaimana mana mungkin kita percaya bahwa Aisyah telah dididik secara sempurna pada usia 7 tahun seperti diklaim sebagai usia pernikahannya?
Abu Bakr merupakan seorang yang jauh lebih bijaksana dari kita semua, Jadi dia akan merasa dalam hatinya bahwa Aisyah masih seorang anak-anak yang belum secara sempurna sebagaimana dinyatakan Qur'an. Abu Bakar tidak akan menikahkan Aisyah kepada seorangpun. Jika sebuah proposal pernikahan dari gadis belia dan belum terdidik secara memuaskan datang kepada Nabi, Beliau akan menolak dengan tegas karena itu menentang hukum-hukum Quran.
KESIMPULAN: Pernikahan Aisyah pada usia 7 tahun akan menentang hukum kedewasaan yang dinyatakan Quran. Oleh karena itu, Cerita pernikahan Aisyah gadis belia berusia 7 tahun adalah mitos semata.
Bukti #9: Ijin dalam pernikahan
Seorang wanita harus ditanya dan diminta persetujuan agar pernikahan yang dia lakukan menjadi syah (Mishakat al Masabiah, translation by James Robson, Vol. I, p. 665). Secara Islami, persetujuan yang kredible dari seorang wanita merupakan syarat dasar bagi kesyahan sebuah pernikahan.
Dengan mengembangkan kondisi logis ini, persetujuan yang diberikan oleh gadis belum dewasa berusia 7 tahun tidak dapat diautorisasi sebagai validitas sebuah pernikahan.
Adalah tidak terbayangkan bahwa Abu Bakr, seorang laki-laki yang cerdas, akan berpikir dan mananggapi secara keras tentang persetujuan pernikahan gadis 7 tahun (anaknya sendiri) dengan seorang laki-laki berusia 50 tahun.
Serupa dengan ini, Nabi tidak mungkin menerima persetujuan dari seorang gadis yang menurut hadith dari Muslim, masih suka bermain-main dengan bonekanya ketika berumah tangga dengan Rasulullah.
KESIMPULAN: Rasulullah tidak menikahi gadis berusia 7 tahun karena akan tidak memenuhi syarat dasar sebuah pernikahan islami tentang klausa persetujuan dari pihak isteri. Oleh karena itu, hanya ada satu kemungkinan Nabi menikahi Aisyah seorang wanita yang dewasa secara intelektual maupun fisik.
Summary: Tidak ada tradisi Arab untuk menikahkan anak perempuan atau laki-laki yang berusia 9 tahun, Demikian juga tidak ada pernikahan Rasulullah SAW dan Aisyah ketika berusia 9 tahun. Orang-orang arab tidak pernah keberatan dengan pernikahan seperti ini, karena ini tak pernah terjadi sebagaimana isi beberapa riwayat.
Jelas nyata, riwayat pernikahan Aisyah pada usia 9 tahun oleh Hisham ibn `Urwah tidak bisa dianggap sebagai kebenaran, dan kontradisksi dengan riwayat-riwayat lain. Lebih jauh, tidak ada alasan yang nyata untuk menerima riwayat Hisham ibn `Urwah sebagai kebenaran ketika para pakar lain, termasuk Malik ibn Anas, melihat riwayat Hisham ibn `Urwah selama di Iraq adalah tidak reliable.
Pernyataan dari Tabari, Bukhari dan Muslim menunjukkan mereka kontradiksi satu sama lain mengenai usia menikah bagi Aisyah. Lebih jauh, beberapa pakar periwayat mengalami internal kontradiksi dengan riwayat-riwayatnya sendiri. Jadi, riwayat usia Aisyah 9 tahun ketika menikah adalah tidak reliable karena adanya kontradiksi yang nyata pada catatan klasik dari pakar sejarah Islam.
Oleh karena itu, tidak ada alasan absolut untuk menerima dan mempercayai usia Aisyah 9 tahun ketika menikah sebagai sebuah kebenaran disebabkan cukup banyak latar belakang untuk menolak riwayat tsb dan lebih layak disebut sebagai mitos semata. Lebih jauh, Qur'an menolak pernikahan gadis dan lelaki yang belum dewasa sebagaimana tidak layak membebankan kepada mereka tanggung jawab-tanggung jawab.
Note: The Ancient Myth Exposed By T.O. Shanavas , di Michigan. (c) 2001 Minaret from The Minaret Source: http://www.iiie. net/
http://chodirin.or.id
posted by Anis Fuad on keluarga, rumah, surga kami
Jam 20.00, akhirnya kami bisa bernafas lega. 2 anak kami sudah tidur semua. Maklum lebaran hari keempat asisten rumah tangga alias pembantu belum datang juga padahal janji Sabtu pagi tadi dia mau datang. Kita jadi maklum, sudah kebiasaan dia, jika janji habis pulang kerumah orangtuanya, dia akan kembali pasti telat satu hari.
Nah, Kebiasaan kami setelah lelah bekerja atau juga mengurus anak adalah duduk diteras belakang rumah. Teras belakang rumah sengaja kami buat didepannya sebuah taman dan kolam dikelilingi tanaman hias. Ini obat penat kami.
Malam ini kami buat teh hangat.Tehnya teh tong tji premium aroma melati (ini bukan pesan sponsor loh!). Saya kebetulan suka sekali dengan jeruk nipis. So, saya buatlah teh jeruk nipis hangat, mantappp segar!. Selain minum teh, malam seperti ini enaknya makan mie rebus. Mienya rasa koya jeruk nipis, hehehe jeruk nipis lagi tapi memang bikin badan segar kok. Oh ya, tadi juga ada sisa makan malam, makaroni dar pizza a la chef anis (mau resepnya? Klik di sini). Mmmmhhmmi, duduk ngaso di taman bersama istri sambil minum teh dan makan mie serta makaroni dar pizza memang menyenangkan. Malam tenang, sejuk dan santai membuat tubuh kembali pulih dari capek. Ngobrol dengan istri membicarakan anak dan aneka obrolan keluarga membuat malam ini menjadi cozy.... malam yang menyenangkan..
posted by Anis Fuad on intermezzo, islam, keluarga
Idul Fitri bagi semua orang adalah momen paling baik untuk berkumpul dengan sanak saudara. Termasuk bagi pembantu kami di rumah. Tahun ini, kami berlebaran di rumah orangtuaku di Penancangan, Serang. Kami masih bisa disebut mudik karena kita harus hijrah dari satu daerah ke daerah lain. Walaupun jaraknya dapat ditempuh hanya dalam waktu 15 menit saja (hehehe maksa banget) :) .
kompleks rumahku hanya tetangga kelurahan dengan kelurahan orangtuaku. Anak dari orang tuaku berjumlah 6 orang termasuk aku ditambah 5 cucu. Rumah menjadi ramai dan sesak karena seluruh anggota keluarga akhirnya lengkap berkumpul. Tahun-tahun sebelumnya memang selalu tidak lengkap. ditambah lagi satu orang adik ibuku (bibi kami) yang memang rumahnya berdekatan dan selalu berkumpul dan main kerumah orangtuaku. Nah, berhubung pembantu dirumah orangtuaku pulang kampung. Maka pekerjaan rumah menjadi tanggung jawab kita bersama. Kebetulan juga ibuku penjual kue pesanan, maka pekerjaan rumah pun bejibun. Semua orang punya job masing-masing. Nah, giliran kita berdua kebagian kerjaan. Biasanya para pasangan di malam takbiran, berkeliling kota. Bagi kami pasangan suami istri bukan jamannya lagi berdua-duaan bergaya anak muda. Malam takbiran kami isi dengan mencuci piring. Ya, kami berdua bertakbiran sambil cuci piring peralatan makan dan masak yang seabrek-abrek bekas makan berbuka dan peralatan masak bekas ibu memasak kue. Alhasil kita diledeki oleh ibuku “mojok di bawah keran pancuran air cucian.” Hehehe ini Pacaran gaya baru. Pacaran sambil memperkuat kekompakan keluarga kami dengan mencuci piring. Sambil elus-elus piring, mangkok, gelas, sendok, garpu, pisau, panci dan pinggan alias kenceng kita juga bisa colek-colekan mesra dan menggoda. Hehehe cucian deh luh, pacaran kok sambil cuci piring!
posted by Anis Fuad on keluarga, kesehatan
kesehtanSewaktu istri hamil (2 tahun yg lalu), ada pertanyaan mengganjal bagai kami yang notabene terhitung pengantin baru dan minim pengalaman. Masalah seks selama kehamilan? Boleh tidak ya? bagaimana efeknya? Nah, tanpa referensi apapun akhirnya kami membuat keputusan menjalankan seks seperti dalam keadaan normal. Memang sih, ada rasa waswas. Tapi kami menjalankannya dengan logika kami sendiri. 9 bulan kami bagi menjadi trimester (3 bulan)X masa. Trimester pertama, adalah masa hati2, trimester kedua adalah masa aman dan trimester ketiga adalah masa kritis. Nah, saat kita cari2 referensi, teori kita tidak salah. cuma meleset pada analisis pada trimester ketiga. Dipikiran awal kita khawatir di trimester ketiga, ternyata pada trimester ketiga itu istri malah sedang "tinggi2nya" walaupun harus hati2 dengan kontraksi. bisa-bisa di bulan ketujuh malah istri ingin melahirkan karena kontraksi akibat kegiatan seks kita. so far kita aman kok. Nah, dibawah ini ada materi yang bagus tentang Seks selama kehamilan. Selamat membaca
Seks Selama Kehamilan
Oleh sahabat kami : Lita Mariana
di copy dari www.wikimu.com
Bahasan ini tidak hanya khusus ibu-ibu, apalagi ibu hamil. Para bapak juga perlu tahu. Sedikit peringatan awal; kata-kata dalam tulisan ini akan cenderung vulgar. Apa yang anda harapkan? Saya sedang berbicara tentang seks! Dan saya tidak menyediakan ilustrasi pendukung (kecuali editor yang memasang).
Mengapa topik dan kata-kata vulgar?
Ngapain ngomongin ginian? Sebagian perempuan yang merasa nyaman dengan teman perempuan lainnya (yang sudah menikah), dapat bertanya dengan leluasa. Atau bertanya pada ibunya. Tapi akan tetap banyak perempuan yang memilih untuk mencari tahu (sebagai tambahan atas percakapan tersebut atau sebagai pilihan utama) dari artikel di internet atau buku bacaan. Bahkan jika mereka termasuk yang tidak terhalang rasa malu untuk bertanya pada yang ‘lebih berpengalaman’.
Saya hanya menyediakan alternatif yang nyaman. Berselancar di internet, jika anda tahu caranya, dapat bersifat privat dan rahasia. Anda tak harus bertanya sambil malu-malu dengan pipi memerah sementara yang ditanya malah tersenyum-senyum geli.
Nah, mari kita hentikan basa-basi penjelasannya.
Perempuan (dan laki-laki) merasa khawatir
Ketika saya sedang memikirkan rancangan tulisan ini (baru dipikirkan, belum menulis apapun), bahasan ini diturunkan dalam majalah Parentsguide edisi Maret 2007. Seks selama kehamilan: Don't worry be happy dan Ketika Hubungan Intim Tak Lagi Bebas, dengan foto penunjang yang... ehm (kata suami, "Ya gak papa lah, itu kan majalah orangtua"). Karena itu majalah edisi tersebut juga saya masukkan sebagai referensi.
Sebagian perempuan merasa takut melakukan hubungan seksual saat hamil. Beberapa merasa gairah seksualnya menurun, karena tubuhnya melakukan banyak penyesuaian terhadap bentuk kehidupan baru yang berkembang di rahim.
Sementara di saat yang sama, gairah yang timbul ternyata meningkat. Lho? Iya, karena sudah terbebas dari pikiran tentang 'bakalan hamil gak ya?' (sudah hamil tidak bisa lebih-hamil lagi, kan?) atau 'kapan hamilnya, ya?'. Tenang, ini bukan kelainan seksual. Memang ada masanya ketika ibu hamil mengalami peningkatan gairah seksual. Ketika kondisi kesehatan tidak bermasalah, mengapa tidak? Suami juga pasti senang-senang saja.
Minat menurun: trimester pertama
Pada trimester (3 bulan) pertama, biasanya gairah seks menurun. Jangankan kepingin, bangun tidur saja sudah didera mual. Morning sickness, muntah, lemas, malas, apapun yang bertolak belakang dengan semangat dan libido. Fluktuasi hormon, kelelahan, dan eneg dapat menghisap semua keinginan 'berkegiatan'.
Minat meningkat (kembali): trimester kedua
Memasuki trimester kedua, umumnya libido timbul kembali. Tubuh telah dapat menerima dan terbiasa dengan kondisi kehamilan, sehingga ibu dapat menikmati aktivitas dengan lebih leluasa ketimbang pada trimester pertama. Dan kehamilan juga belum terlalu besar dan memberatkan seperti pada trimester ketiga.
Mual-muntah dan segala rasa tidak enak biasanya sudah jauh berkurang, dan tubuh terasa lebih nyaman. Demikian pula untuk urusan ranjang. Ini akibat meningkatnya pengaliran darah ke organ-organ seksual dan payudara.
Minat menurun lagi: trimester ketiga
Libido dapat turun kembali ketika kehamilan memasuki trimester ketiga, rasa nyaman yang sudah jauh berkurang. Pegal di punggung dan pinggul, tubuh bertambah berat dengan cepat, nafas lebih sesak (karena besarnya janin mendesak dada dan lambung), dan kembali merasa mual hanyalah beberapa penyebab yang dapat 'disalahkan' atas minat seksual yang menurun.
Tapi jika anda termasuk yang tidak mengalami penurunan libido di trimester ketiga, jangan keburu merasa tidak waras. Normal saja kok. Apalagi jika anda termasuk yang menikmati masa kehamilan, dan termasuk beruntung karena tidak tersiksa oleh kaki membengkak, sakit kepala, atau keharusan beristirahat total.
Selain hal fisik, turunnya libido juga berkaitan dengan kecemasan dan kekhawatiran yang meningkat menjelang persalinan. Pertanyaan yang paling umum adalah apakah berhubungan seksual dapat membahayakan janin.
Secara medis tidak ada sesuatu yang perlu dirisaukan jika kehamilan tidak disertai faktor penyulit, artinya kondisinya sehat-sehat saja. Di antara faktor penyulit tersebut adalah ancaman keguguran, hipertensi, muntah-muntah yang berlebihan, atau kondisi kesehatan tertentu lainnya.
Kekhawatiran terhadap dampak seks terhadap kehamilan
- Keguguran
- Menyakiti janin
Ejakulasi yang terjadi juga tidak akan membuat sperma menjangkau janin karena selaput ketuban yang melindungi. Penis pasangan anda juga tidak akan menyentuh bayi. Tapi jika kenyamanan adalah masalahnya, tentu ada baiknya anda bicarakan dengan pasangan mengenai posisi pilihan.
- Orgasme memicu kelahiran prematur
Khawatir saja.
Jika anda memiliki sindrom pra-menstruasi, besar kemungkinannya anda akan mengalami mood swing yang lebih parah saat hamil. Ini tidak saja berpengaruh terhadap hasrat seksual, tapi juga kekhawatiran yang cenderung berlebih pada dampaknya.
Perhatikan beberapa hal ini
Jika anda memilih seks oral, pastikan pasangan tidak meniupkan udara ke dalam vagina. Walaupun jarang, tapi masuknya udara ke dalam pembuluh darah (emboli) dapat berakibat fatal bagi anda dan janin. Jadi sebaiknya dihindari sebisa mungkin.
Hindari berbaring telentang selama berhubungan intim. Jika rahim (dan janin) menekan pembuluh darah utama di bagian belakang perut, anda dapat merasa pusing (lightheaded) atau mual. (tapi jika anda tidak bermasalah dengan posisi ini, lakukan saja)
Jika anda memang tidak ingin melakukan hubungan seksual, katakan apa adanya pada pasangan anda. Cemas, tak nyaman, tidak tertarik sama sekali (no desire), atau tidak memungkinkan (harus menghindari), adalah beberapa alasan yang umum.
Cinta tak hanya sekitar selangkangan, kok. Pelukan yang hangat, ciuman mesra, atau pijatan yang nikmat juga merupakan bentuk perhatian seksual. Dan pasangan anda adalah orang yang paling wajib untuk mengerti segala ketidaknyamanan yang sedang anda rasakan.
Paparan pada penyakit menular seksual (PMS) selama kehamilan meningkatkan risiko infeksi yang dapat mempengaruhi kesehatan kehamilan dan janin. Jika anda berganti pasangan seksual selama kehamilan, gunakan kondom saat berhubungan intim.
Berkaitan dengan penyakit menular seksual: Safe sex is no sex. Keamanan 100% adalah ketika tidak berhubungan seksual. Ini tidak berarti suami-istri sebaiknya tidak berhubungan intim. Namun jika anda termasuk yang sering berganti-ganti pasangan seksual, camkan hal tersebut baik-baik. Anda mungkin tidak akan pernah tahu hingga saatnya menyesal.
Pilihan posisi nyaman dan aman
Beberapa posisi yang nyaman untuk dicoba adalah:
- Perempuan di atas. Posisi ini memungkinkan perempuan untuk memegang lebih banyak kendali atas gerakan. Anda dapat membuatnya lambat atau cepat, sambil mengontrol kedalaman penetrasi.
- Posisi menyamping berhadapan dengan pasangan. Tarik satu kaki untuk memberi ruang pada pasangan untuk melakukan penetrasi.
- Posisi menyamping namun tidak berhadapan. Pria dapat melakukan penetrasi dari belakang (tetap vaginal), yang tidak menyebabkan tekanan pada perut dan penetrasi yang tidak terlalu dalam. Posisi ini cukup nyaman dilakukan sepanjang masa kehamilan
- Perempuan bersangga pada lutut dan tangan. Yes, doggie style. Posisi ini memungkinkan tidak terjadi tekanan langsung pada perut, meski jika kehamilan membesar, perut dapat menyentuh alas.
- Perempuan duduk di pangkuan pasangan. Ketika hamil belum terlalu besar, posisi berhadapan dapat dilakukan. Tapi ketika perut semakin membesar, posisi tidak berhadapan dapat dipilih
Ketika sebaiknya tidak berhubungan seks
- Placenta previa
- Kelahiran prematur
Selain itu paparan terhadap hormon prostaglandin di dalam semen (cairan sperma) juga dapat memicu kontraksi, yang -walaupun tidak berbahaya bagi kehamilan normal- harus diwaspadai jika anda memiliki risiko melahirkan (janin) prematur. Jika tetap memilih berhubungan seks, keluarkan sperma di luar.
- Perdarahan (flek/vaginal bleeding)
- Mulut rahim (cervix) lemah
- Janin kembar
Seberapa sering?
Tidak ada patokan yang ketat tentang batas seberapa sering hubungan seksual dapat dilakukan selama kehamilan. Sepanjang kondisi kehamilan anda baik-baik saja, berapa kalipun tidak masalah.
Walaupun demikian, ada baiknya anda memperhitungkan dampaknya agar tidak terlalu letih. Anda tentu tidak ingin ‘dipaksa’ istirahat dan merasa tidak senang hanya karena terlalu menikmati kesenangan hingga lupa diri. Sungguh ironi, bukan?
Setelah melahirkan: kapan mulai berhubungan seks lagi?
Tubuh anda memerlukan waktu untuk pulih ke keadaan normal seperti sebelum hamil, entah anda melahirkan melalui vagina atau dengan operasi. Banyak dokter menyarankan untuk menunggu setidaknya 6 minggu sebelum mulai berhubungan intim. Periode ini memberi waktu bagi mulut rahim untuk kembali menutup dan jahitan atau perlukaan untuk sembuh.
Sekadar selingan. Ibu mertua saya pernah bercerita bahwa kenalannya mengaku mulai berhubungan seks kembali tidak lebih dari 30 hari setelah melahirkan. Luar biasa. Yang terpikir oleh saya hanya sakitnya. "Duh, apa ngga nyeri, ya? (sambil mengingat luka episiotomi dan bengkak yang terjadi saat melahirkan anak pertama)", saya membatin sambil meringis.
Apabila anda merasa terlalu sakit atau lelah (melahirkan dan mengurus bayi baru lahir sangat melelahkan, lho!), bahkan sekadar untuk memikirkan seks, pertahankan keintiman dengan cara lain. Telepon atau pesan singkat beberapa kali dalam sehari, berendam, bersantai di spa, atau luluran, adalah beberapa cara yang dapat dicoba.
Ketika anda merasa siap untuk kembali berhubungan intim, mulailah perlahan. Santai saja. Dan gunakan metode yang dapat diandalkan sebagai alat kontrasepsi. Menyusui secara eksklusif akan memberi anda perlindungan optimal.
Dengarkan tubuh anda
Semua anjuran atau peringatan ini belum tentu berlaku untuk semua orang. Setiap perempuan dan setiap kehamilan adalah unik. Yang berlaku untuk satu perempuan mungkin tak dapat diterapkan oleh perempuan lainnya. Dan antara kehamilan satu dengan lainnya juga mungkin tidak sama.
Yang paling penting; ‘dengarkan’ apa yang dikatakan tubuh anda. Walaupun 6 minggu telah terlewati, tapi jika tubuh anda merasa belum siap, jangan paksakan diri. Lagi-lagi pasangan anda adalah orang yang paling patut untuk mengerti dan berempati atas apa yang sedang anda alami.

